Kampoong Hening : Jalan Menuju Kejernihan Hati

Journaling: Sebuah Proses Konseling dengan Diri Sendiri

Berdasarkan sebuah survey yang dilakukan SurveyMeter pada 2020 lalu, disebutkan bahwa kondisi Covid-19 menyebabkan tingkat stress yang meningkat tajam di tengah-tengah masyarakat kita. Banyak aspek yang disinyalir menjadi penyebabnya, mulai dari kekhawatiran tertular virus itu sendiri, kehilangan keluarga tercinta, guncangan pada pekerjaan dan penurunan pendapatan keluarga, serta ketidakpastian yang dialami atas serial perubahan-perubahan yang terjadi baik cara bekerja, belajar, beribadah, maupun bersosialisasi.

Mengatasi hal tersebut di atas, sebetulnya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kestabilan mental di tengah kondisi ini. Salah satu yang tentunya paling disarankan adalah dengan mendatangi expert seperti Psikolog maupun Psikiater, terlebih jika kecemasan yang dialami telah mengganggu kegiatan sehari-hari. Namun, sebetulnya ada hal sederhana bahkan rendah biaya yang dapat membantu kita menjaga kesehatan mental, yakni Journaling.

Istilah journaling rasanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Acap kali aktivitas ini diasosiasikan dengan kegiatan menulis diary. Ya, journaling dan diary adalah kegiatan bercerita pada buku maupun media lainnya tentang kisah keseharian yang seseorang alami. Namun, nyatanya journaling tidak hanya tentang bagaimana menuliskan cerita sehari-hari lantas selesai begitu saja. Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika kita menjalani aktivitas ini dengan sungguh-sungguh.

Mengurai Emosi

Dengan menulis journal tanpa sadar kita tengah memaksa diri kita sendiri untuk mendefinisikan apa yang kita sedang alami, emosi apa yang sedang kita rasakan, atau pikiran-pikiran apa yang sedang muncul. Dengan demikian, sebetulnya kita tengah membantu diri sendiri untuk dapat memahami  batin kita lebih dalam. Emosi-emosi yang sebelumnya bagai benang kusut tak tersalurkan, menjadi tertata jelas dalam suatu pemahaman kausalitas.

Apabila proses journaling telah dilakukan secara rutin, kita dapat dengan mudah mengidentifikasi hal-hal apa saja yang bisa membuat kita sedih, senang, kecewa, marah, gembira, bahkan bingung, atau jutaan emosi lainnya. Selanjutnya apabila kita telah mengetahui penyebab-penyebab yang sering muncul dari emosi yang kita alami, kita dapat mencegah maupun menangani emosi-emosi negative yang mungkin muncul di masa mendatang.

Menurunkan Tingkan Anxiety

Journaling dapat membantu kita menurunkan tingkat kecemasan yang dialami. Hal ini ternyata selaras dengan hasil penelitian Dr. James Pennebaker, seorang psikolog dan ahli terkemuka di bidang Expressive Writing. Menurutnya, journaling dapat menurunkan tingkat anxiety yang seseorang alami bahkan dapat meningkatkan system kekebalan tubuh kita melalui peningkatan sel imun T-lymphocytes. Karena dengan menulis journal, kita sebetulnya tengah membebaskan tekanan-tekanan yang kita alami.

Mengasah Daya Analisis dan Kreativitas

Siapa yang menyangka bahwa dalam kegiatan menulis journal, ternyata kita sedang mengaktifkan daya kerja otak kita secara seimbang. Hal ini terjadi lantaran dalam prosesnya kita memang menggunakan otak kiri dan otak kanan kita sekaligus. Pada saat menulis journal, daya analisis kita bekerja untuk berusaha menjabarkan apa-apa yang kita alami, baik itu sebuah rangkaian sebab-akibat, mengingat kejadian di masa lampau, menjelaskan secara kronologis, hingga memproyeksikan hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.

Sedangkan otak kanan kita secara aktif mencari kosa kata yang paling tepat untuk sebuah emosi, menyusun struktur penulisan agar menemukan estetikanya sendiri, hingga pada beberapa proses jurnaling kreatif: mendekorasi tulisan dengan berbagai warna, stiker, cuplikan foto atau sesederhana menempelkan daun kering yang jatuh tepat di kaki kita pagi tadi pada buku journal.

 

Setelah mengetahui berbagai manfaat yang bisa didapatkan dari aktivitas sederhana ini, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara memulai journaling? Apa yang bisa saya tulis?

Menulis journal bukanlah menulis script akademik yang harus memenuhi serangkaian aturan kepenulisan. Sehingga segalanya dikembalikan ke diri kita, si penulis, untuk mau menuangkan apa di atas kertas kosong itu. Kita bisa memulainya dengan menuliskan lima hal yang paling kita syukuri dalam satu hari ini misalnya. Atau sebaliknya, lima hal yang paling kita khawatirkan terjadi hari ini, dan jawab pada diri sendiri apakah kekhawatiran itu terjadi? Bagaimana hal tersebut bisa/tidak terjadi? Di lain waktu kita bisa mencoba menuangkan pengalaman-pengalaman yang tidak pernah terlupakan di masa lampau, mengapa kejadian itu bisa begitu membekas? Siapa orang-orang yang membersamai kita pada saat itu terjadi? Dan seterusnya. Biarkan daya analisis dan kreativitas menuntun jari kita untuk meluapkan apa pun yang ingin diluapkan oleh inner self kita.

Pada akhirnya kegiatan menulis journal adalah aktivitas bebas yang dilakukan dari-oleh-untuk diri sendiri. Apabila journaling ditekuni dengan serius dan konsisten, manfaatnya akan sangat terasa sebagaimana disebutkan dalam suatu studi bahwa journaling 3 kali dalam seminggu mampu mengurangi gejala depresi dan meningkatkan rasa bahagia. Hal inilah yang kemudian mendorong Kampoeng Hening untuk mengadakan pelatihan Be A Happy Counselor, sebuah pelatihan yang akan menuntun kita melatih kestabilan mental dengan berbagai metode efektif dan sederhana, mulai dari hypnotherapy, silent mindfulness, hingga metode journaling itu sendiri. Info lebih lanjut tertera pada laman berikut dan bersiaplah menjadi konselor terbaik bagi diri sendiri! (rn.)

Scroll to Top