Kampoong Hening : Jalan Menuju Kejernihan Hati

Pentingnya Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Dunia saat ini masih harus terus bergulat dengan pandemi global yang sudah dua tahun ini melanda. Penyebaran Covid-19 dan adanya virus varian baru, semakin meresahkan penduduk dunia, terutama kita yang ada di Indonesia. Tak sedikit korban jiwa mulai berjatuhan, ada yang akhirnya bisa sembuh, tetapi banyak juga yang meninggal.

Salah satu yang menjadikan seseorang bisa terkena Covid-19, ternyata tak hanya ketika imun tubuhnya menurun yang menyebabkan kondisi fisik melemah, tetapi juga saat seseorang mengalami gangguan kesehatan mental, dan tentu hal tersebut akan memengaruhi kondisi fisiknya juga.

Pandemi tak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga masuk ke ranah sosial dan ekonomi. Ketika sebelum pandemi kita bisa bebas keluar rumah, bersosialisasi, dan bersilaturahmi dengan rekan, kerabat, keluarga, dan orang-orang di sekitar tanpa harus memakai masker, jaga jarak, dan melakukan protokol kesehatan lainnya, maka sekarang kondisi tersebut harus dibatasi, bahkan sebisa mungkin dihindari untuk bepergian, terutama ke tempat-tempat ramai.

Pun dengan masalah ekonomi. Adanya pembatasan kegiatan masyarakat juga menyebabkan perputaran roda ekonomi di masyarakat terganggu. Pemasukan mulai menurun, sementara kebutuhan tetap atau bahkan semakin naik. Tak hanya pedagang, tetapi juga banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan, dan pegawai kantor yang bekerja dari rumah.

Kondisi seperti itu memang rawan memicu gangguan pada mental seseorang. Merasa terkurung di dalam rumah, kemudian merasakan bosan dan jenuh. Belum lagi apabila seseorang merasa kesulitan mencari uang di saat kondisi ekonomi semakin melemah kala pandemi ini. Stres, depresi, bahkan beberapa penyakit mental lebih berat lainnya bisa menyerang kapan saja, apabila orang tersebut lalai dan tak bisa menjaga kesehatan mentalnya di tengah kondisi sulit seperti ini.

Lalu, sebenarnya apa saja dampak jika kesehatan mental di masa pandemi ini terganggu? Bagaimana pula cara menghalangi agar seseorang tak sampai mengalami gangguan mental tersebut?

1. Kondisi Fisik Melemah, Berbagai Penyakit Akan Mudah Menyerang

Saat seseorang mengalami gangguan mental, tentu hal tersebut akan memengaruhi kondisi fisiknya juga. Mereka yang kesehatan mentalnya buruk, biasanya akan mengalami pola makan dan hidup yang buruk pula. Tak jarang, mereka mulai menghindari atau bahkan berlebihan dalam makan, tidur, dan tidak stabil secara emosi.

Kondisi fisik yang melemah akan membuat seseorang gampang terserang penyakit, karena imun tubuh turun. Virus, bakteri, jamur, dan sumber penyakit lainnya akan mudah datang dan menetap. Penyembuhan penyakit juga lebih lama, apabila kondisi mental seseorang tak kunjung membaik.

Apalagi di masa pandemi ini. Kondisi fisik dan imun yang buruk akan membuat seseorang mudah terserang Covid-19, meskipun tak memiliki riwayat penyakit atau komorbid. Penyembuhan pasien Covid-19 yang kondisi mentalnya buruk juga akan berlangsung lama, bahkan tak jarang sulit disembuhkan. Saturasi mereka juga bisa semakin turun dari hari ke hari.

Untuk itu, sangat penting terus menjaga kesehatan mental dengan berusaha menyibukkan diri pada aktivitas bermanfaat yang menyehatkan, misalnya rutin olahraga ringan di pagi hari, membaca atau menulis dan menyalurkan hobi lainnya, berkumpul bersama keluarga, meminimalisir penggunaan gadget, dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah.

2. Semakin Jauh dari Orang-Orang Tercinta, Padahal Sudah Mulai Sulit Bertatap Muka

Orang yang mentalnya terganggu cenderung menjauh dari lingkungan sosial dan tak mau bertemu orang lain. Mereka akan lebih senang mengurung diri, dan tidak mau bertemu siapa pun. Di masa pandemi ini, hubungan dengan orang-orang tercinta yang jauh dari rumah kita akan mengalami ujian karena tidak bisa sering bertemu.

Misalnya saja saat hari raya, biasanya kita bisa berkumpul dengan keluarga besar, tetapi karena pandemi, maka kita menjadi tidak bisa menjalani hal tersebut. Tentu saja sedih. Apalagi jika yang jauh adalah orang tua atau anak-anak kita.

Jika pertemuan tak bisa dilakukan, dan seseorang mengalami gangguan mental kemudian menarik diri dari dunia luar, tentu hal tersebut akan semakin menjauhkan diri dari orang-orang tercinta yang jauh dari rumah.

Hubungan yang tak terawat manis karena komunikasi kurang atau tidak sehat akan sangat mudah mengalami keretakan. Apalagi jika orang yang mengalami gangguan kesehatan mental itu tinggal sendiri, jauh dari keluarga, kemudian menutup diri dari siapa pun. Tentu sangat berbahaya, karena tidak ada uluran tangan yang akan memeluk dan menghiburnya.

Untuk itu, sangat penting bagi Anda yang tinggal sendiri jauh dari keluarga menjaga kesehatan mental terutama di masa pandemi ini. Rutinlah menjalin komunikasi secara online dengan keluarga, sahabat, dan teman. Ceritakan pada mereka tentang hari-hari Anda, sampaikan keluh kesah jika ada masalah, dan jangan pendam sendiri. Tentunya itu akan meringankan beban Anda, dan membuat terhindar dari gangguan mental yang membahayakan.

3. Tidak Bisa Merasakan Kebahagiaan, Membuat Seseorang Menjadi Hilang Semangat Hidup

Kesehatan mental yang terganggu juga membuat seseorang kehilangan rasa bahagia, dan akhirnya menjadi tidak semangat dalam menjalani hidup lagi. Tentu hal tersebut sangat berbahaya, apalagi di masa pandemi ini.

Seseorang yang mengalami gangguan mental dan hilang semangat hidup, apabila terserang Covid-19 atau kondisi ekonominya terganggu karena pembatasan kegiatan sosial, tidak akan memiliki semangat lagi untuk sembuh dan berbenah.

Selain itu, orang yang tak memiliki lagi semangat hidup akan menjadi tidak produktif dan lebih banyak mengeluh serta bermalas-malasan. Tentu saja itu akan semakin memperburuk kondisinya, baik secara mental, fisik, ekonomi, dan juga sosial.

Dia akan pasrah dan justru malah menolak saran dari siapa pun di sekitarnya, baik keluarga, sahabat, maupun para ahli. Hatinya yang mulai tertutup pelan-pelan tentu akan merugikan dirinya sendiri.

Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya Anda selalu berusaha berpikir positif, bahwa Allah pasti memiliki rencana besar dengan datangnya pandemi ini. Baik sebagai ujian maupun peringatan. Agar manusia mulai kembali kepada-Nya, dan tidak hanya berpikir duniawi semata.

Banyaklah bersyukur dan mendekat kembali kepada Allah serta jalin hubungan hangat kembali dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Hal tersebut akan lebih menenteramkan hati.

4. Selalu Berpikir Negatif, Membuat Seseorang Akan Jauh dari Allah

Allah selalu ada untuk hamba-Nya. Ketika Dia mendatangkan ujian, maka yakinlah bahwa akan ada jalan keluar terbaik nantinya. Memang harus sabar dan terus tekun berusaha, berdoa, dan tawakkal pada-Nya.

Namun, bagi mereka yang mengalami kondisi mental buruk, akan menarik diri, menjauh dari Allah, bahkan tak sedikit yang menyalahkan Allah. Hal itu akan memperburuk kondisi mental dan fisiknya sendiri. Malas bekerja karena tak bersyukur dan banyak mengeluh pada Allah juga membuat kondisi ekonomi seseorang semakin melemah. Kondisi seperti ini sudah memerlukan terapi trauma healing.

Untuk menghindarinya, paksa diri Anda selalu berpikir positif. Allah dekat dan akan selalu menolong hamba-Nya, akan selalu menjaga hamba-Nya. Pandemi akan segera berakhir apabila masyarakat tak hanya mematuhi protokol kesehatan, tetapi juga terus bermunajat pada Allah, meminta kemudahan dan pertolongan agar kondisi ini segera berakhir, serta menjaga kondisi fisiknya tetap prima. Itu semua akan membantu kesehatan mental di masa pandemi ini terjaga dengan baik.

Nah, itulah tadi empat dampak buruk yang bisa terjadi apabila seseorang mengalami gangguan mental di masa pandemi ini, serta bagaimana cara mencegahnya. Tetap patuhi protokol kesehatan, lakukan pola makan dan hidup sehat, serta jangan lupa terus mendekatkan diri kepada Allah. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top